Telehealth Indonesia

Kesehatan milik seluruh rakyat Indonesia

Mengapa Tetanus Berbahaya?
October 13, 2017 |
Share

Pada artikel sebelumnya, telah dibahas mengenai luka tusuk yang dapat menyebabkan tetanus. Lalu, apa itu tetanus? Seberapa berbahayakah tetanus bagi tubuh kita?

Tetanus merupakan penyakit yang diakibatkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani.

Cara kerja bakteri ini di dalam tubuh disebut dengan anaerob yaitu bekerja tanpa oksigen. Bakteri C. tetani dapat berkembang di lingkungan yang kotor, usus dan kotoran hewan seperti kuda, domba, sapi, anjing, kucing, tikus, marmut, dan ayam. Selain itu, pupuk juga merupakan tempat yang banyak ditemukan spora bakteri penyebab tetanus ini.

Terdapat 2 racun yang dihasilkan, yaitu tetanolysin dan tetanospamin. Fungsi tetanolysin sejauh ini belum diketahui, namun tetanospamin memiliki andil yang besar terhadap tetanus karena mengganggu sistem persarafan. Jumlah tetanospamin tidak boleh lebih dari 2.5 nanogram (sepermilyar gram) tiap kilogram berat badan karena dapat mematikan korban seketika. Berarti, orang dengan berat badan 50 kg hanya dapat menerima 125 ng tetanospamin dalam tubuhnya.

Bakteri ini dapat memasuki tubuh manusia melalui luka.

Ketika sudah masuk ke tubuh, racun diproduksi dan disebarkan melalui peredaran darah dan kelenjar getah bening. Racun juga mulai ‘mengincar’ sistem saraf, seperti pengatur gerak motorik pada tangan dan kaki, tulang belakang, otak, dan sistem saraf simpatis pada jantung, ginjal, dan lainnya. Hal ini yang menyebabkan kejang mulut, sulit menelan, pundak terasa keras, dan perut yang kaku terus-menerus. Hal ini juga diikuti dengan suhu tubuh yang meningkat, berkeringat, naiknya tekanan darah, dan kejang otot berulang pada periode tertentu yang berlangsung selama 3 hingga 4 minggu.

Komplikasi dari tetanus yaitu:

  • laringospasme alias kekakuan pada otot pernapasan sehingga kesulitan napas;
  • patah tulang belakang atau tulang yang panjang karena kontraksi yang berlangsung lama
  • hipertensi dan/ atau gangguan irama jantung karena aktivitas sistem saraf yang berlebih akibat racun tetanospamin
  • infeksi nosokomial akibat dari perawatan di rumah sakit yang sangat lama
  • infeksi lanjutan akibat tetanus seperti pemasangan kateter yang terlalu lama, pneumonia, luka dekubitus.
  • kematian

Wah Sobat Sehat, ternyata banyak juga ya bahayanya tetanus yang harus kita hindari. Lalu, bagaimana cara tepat untuk menghindari ataupun menangani tetanus? Mari simak cara-cara berikut ini.

  1. Tenang dan bersihkan luka yang beru saja terbentuk. Di artikel mengenai cara penanganan luka tusuk, telah disebutkan bahwa ketika membersihkan luka sebaiknya kita menggunakan air bersih dan normal saline yang dialiri ke luka, kemudian dilanjutkan dengan memberikan antiseptik dimana dapat berfungsi juga sebagai desinfektan yang dapat diperoleh dengan mudah yaitu polyvidone-iodine 10%.
  2. Luka dianggap tetanus jika belum ditangani lebih dari 6 jam, terutama jika luka tersebut adalah:
    • luka tusuk,
    • luka terkontaminasi atau disebabkan benda yang kotor atau diduga mengandung bakteri tetanus,
    • luka bakar,
    • radang beku (frostbite), dan
    • luka tembak.
  3. Hubungi tenaga kesehatan terdekat dan jelaskan kronologis penyebab terbentuknya luka. Biasanya, pasien akan diberikan vaksin tetanus, tetanus immune globulin (TIG), dan antibiotik dalam waktu yang hampir berdekatan untuk menghindari berkembang dan tersebarnya racun ke sistem tubuh.
  4. Pastikan jalan napas lancar. Penderita tetanus akan merasa kesulitan napas apabila racun telah mengganggu sistem pernapasan, maka berikan ruang yang cukup untuk bernapas. Jika dibutuhkan, tenaga kesehatan juga akan memberikan ventilasi mekanik atau ventilator kepada penderita.
  5. Berikan cairan dan nutrisi yang cukup, karena kejang akibat tetanus menghasilkan kebutuhan metabolisme yang tinggi. Untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi, tenaga kesehatan juga membantu melalui infus.
  6. Jika Sobat Sehat tidak memiliki luka apapun namun:
    • bekerja di lingkungan yang bersinggungan langsung dengan pupuk, hewan yang dapat menularkan tetanus,
    • berisiko tinggi mengalami luka dari benda-benda yang tidak terjamin kebersihannya,
    • belum pernah divaksinasi waktu kecil, maka disarankan untuk melakukan vaksinasi tetanus. Konsultasikan mengenai hal tersebut dengan tenaga kesehatan terpercaya.

Baiklah Sobat Sehat! Semoga dengan berakhirnya artikel mengenai bahaya tetanus ini dapat menghindarkan kita dari tetanus karena pengetahuan yang disajikan ya. Tetaplah jaga kesehatan diri maupun lingkungan, dan berhati-hatilah dalam beraktivitas.

 

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. Immunology and preventable-disease: tetanus. Diperoleh dari https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf.

World Health Organization. (2010). WHO technical note: current recommendations for treatment of tetanus during humanitarian emergencies. Geneva: Department of Global Alert and Response WHO.

World Health Organization. (2008). Tetanus: immunization, vaccines and biologicals. Diperoleh dari http://www.who.int/immunization/topics/tetanus/en/.

World Health Organization. Prevention and management of wound infection. Diperoleh dari http://www.who.int/hac/techguidance/tools/guidelines_prevention_and_management_wound_infection.pdf.

 

Artikel Terbaru