Telehealth Indonesia

Kesehatan milik seluruh rakyat Indonesia

Pertolongan Pertama pada Patah Tulang
October 13, 2017 |
Share

 

Pernahkan Sobat Sehat melihat kecelakaan lalu lintas secara langsung? Adakah korban yang mengalami patah tulang? Jika ada bagaimana kamu menolongnya? Yuk simak penjelasan lebih lanjut di bawah ini.

Patah tulang atau fraktur merupakan suatu kondisi ketidakutuhan tulang akibat adanya tekanan pada tulang di luar batas kemampuannya. Secara umum patah tulang dikempokkan menjadi dua, yakni patah tulang terbuka atau tertutup. Patah tulang terbuka terjadi ketika patahan tulang dapat menembus kulit sampai terlihat dari luar. Sedangkan patah tulang tertutup terjadi ketika tidak ada patahan tulang yang menembus kulit.

 

Kita dapat mengamati tanda dan gejala patah tulang dari:

  • Sakit atau nyeri pada lokasi cedera atau di dekatnya

  • Ada pembengkakan

  • Terjadi perubahan bentuk tulang

  • Perubahan warna kulit, kemerahan, dan memar

  • Kehilangan fungsi

  • Korban merasa atau mendengar suara patahan terjadi

  • Terdengar bunyi kasar atau terasa seperti tulang yang digosong bersama

Selanjutnya, bagaimana cara kita menangani patah tulang tersebut?
Prinsip penanganan patah tulang pertama adalah kita melakukan fiksasi (menahan pergerakan) dengan belat pada tulang yang patah dengan menggunakan bahan yang kaku/ keras namun tidak merusak jaringan kulit maupun menggaggu pembuluh darah ke lokasi luka/ patah tulang tersebut Secara umum penanganan patah tulang adalah sebagai berikut.
  1. Periksa suhu dan warna kulit di sekitar lokasi luka sebelum dan sesuai dibelat. Suhu yang hangat menunjukkan peredaran darah yang baik pada lokasi luka tersebut.

    1. Jika lokasi luka sebelum dibelat dingin, hubungi fasilitas kesehatan terdekat walaupun penanganan pertolongan pertama belum selesai dilakukan
    2. Jika lokasi luka hangat sebelum dibelat dan setelah dibelat menjadi dingin, berarti belat tersebut terlalu kuat dipasang. Longgarkan belat tersebut.
  2. Jika memungkinkan, belatlah bagian yang terluka pada posisi dimana patah tulang tersebut ditemukan. Jangan mencoba meluruskannya tau menggerakkan bagian tubuh. Misal saat ditemukan lengan patah dengan posisi bengkok ke atas, maka belat dalam kondisi tersebut, jangan mencoba meluruskannya.

  3. Pastikan belat cukup panjang untuk memperpanjangan daerah atas dan bawah area yang terluka/patah tulang.

  4. Untuk cedera tulang, lakukan pembelatan (imobilisasi) pada sendi di antara tulang yang cedera tersebut.

  5. Untuk luka sendi, lakukan pembelatan (imobilisasi) pada tulang di antara sendi yang cedera tersebut.

  6. Jika tidak yakin bagian apa yang terluka, sertakan tulang dan persendian di atas dan di bawah area yang cedera.

  7. Selalu fiksasi dengan belat berbahan kaku namun tidak merusak kulit dan peredaran darah.

  8. Lepaskan perhiasan apapun (terutama cincin) di bawah bagian yang cedera karena mungkin tejadi pembengkakan.

Ada beberapa jenis belat yang dapat digunakan yakni:

  1. Belat lembut namun bendanya besar. Misalnya, selimut terlipat, bantal atau pembalut lain.

  2. Belat kaku namun bendanya tetap. Misalnya papan tulis, koran yang digulung, cabang pohon, stik ice cream dan lain-lain

  3. Belat anatomi dengan menggunakan bagian tubuh lain yang tidak terlukan untuk mendapatkan dukungan. Misalnya menahan kaki yang terluka agar tidak bergerak (imobilisasi) dengan mengamankan ke kaki yang tidak terluka.

  4. Belat menggunakan kain melingkar di leher untuk mendukung ekstremitas atas (misalnya lengan atau pergelangan tangan).

  5. Segera mencari bantuan medis

Mudah bukan melakukan pentolongan pertama pada patah tulang, Sobat Sehat?  Kita dapat memanfaatkan benda-benda di sekitar kita untuk membelat tulang yang patah. Misalnya kita dapat menggunakan batang pohon untuk memfiksasi tulangan lengan yang patah atau menggunakan stik ice cream untuk memfiksasi jari yang patah dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah meminimalisir gerakan pada tulang yang patah tersebut agar tidak merusak jaringan di sekitarnya sampai mendapat penaganan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
Referensi
Canadian Red Cross. (2017). Comprehensive guide for first aid & CPR. Canada: Canadian Red Cross Society.

Grossman, S., & Porth, C. M. (2014). Porth's Patophysiology: Concept of Altered Health States 9th edition. Philadelphia: Lippincott Wiliams & Wilkins.

 St John Ambulance Australia Inc. (2017). Fracture (Broken Bone). Retrieved from http://stjohn.org.au/assets/uploads/fact%20sheets/english/FS_fractures.pdf

Mistovich, J. J., & Karren, K. J. (2014). Prehospital Emergency Care 10th Edition. New Jersey: Pearson Education.

Artikel Terbaru